Taruna STIP Jurusan Perhubungan mengatakan kode khusus ketika penganiayaan adiknya berakhir dengan kematian

TEMPO.CO, Jakarta – Kapolres Jakarta Utara, Direktur Polisi Gidion Arif Setyawan mengatakan, ada kata-kata yang menjadi kode dalam kasus tersebut. penganiayaan taruna tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Kelautan Kementerian Perhubungan (STIP).

Polres Jakarta Utara menetapkan tiga taruna kelas dua TIP sebagai tersangka pelecehan baru. Tiga yakni pelajar berinisial FA alias A, KAK alias K, dan WJP alias W. Dengan ditetapkannya tiga tersangka baru, maka ada empat tersangka dalam kasus tersebut. kekerasan melawan hukuman mati.

Polisi sebelumnya telah mengidentifikasi taruna STIP kelas dua berinisial TRS sebagai pelaku penganiayaan yang menewaskan Putu Satria Ananta Rustika, 19, pada Jumat, 3 Mei 2024.

“Setelah dikembangkan penyidikan dan didaftarkan kasusnya, ada tiga tersangka baru,” kata Kapolres Jakarta Utara Gidion Arif Setyawan pada Rabu malam, 8 Mei 2024, dilansir Antara.

Gidion mengatakan, keterlibatan ketiga tersangka dalam proses pelecehan tersebut dilakukan setelah kasus tersebut disita dan juga mempertimbangkan pendapat para ahli bahasa.

Ketiga tersangka mempunyai tugas “ikut”, “ikut serta dalam persidangan”. “Dalam hal ini yang melakukan, memerintahkan, atau ikut serta dalam perbuatan tersebut,” kata Gidion.

Polisi melibatkan ahli bahasa untuk mengusut kasus ini karena para tersangka menggunakan kata-kata tertentu saat melakukan pelecehan yang dianggap lumrah di kalangan taruna STIP Jurusan Perhubungan.

“Ada kata-kata yang hidup dalam kehidupan mereka di kampus, dan itulah yang coba kami pecahkan dengan bantuan ahli bahasa,” ujarnya.

Peran masing-masing tersangka, FA alias A merupakan siswa Tingkat II yang memanggil P dan rekan-rekan juniornya yang lain untuk turun dari lantai 3 ke lantai 2.

Pemanggilan itu karena adanya anggapan para senior bahwa Putu diidentifikasi melanggar tata tertib sekolah karena mengenakan seragam olah raga (CHOP) saat masuk ke dalam kelas.

“Hei, level pertama memakai PDO (Seragam Olah Raga)!” P dan rekan-rekannya mengikuti ajakan seniornya untuk turun ke lantai 2.

Kemudian FA juga mengawasi ketika terjadi kekerasan berlebihan terhadap Put di luar pintu toilet yang dibuktikan melalui rekaman CCTV di lokasi kejadian dan keterangan saksi. Jadi FA ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan konstruksi Pasal 55 juncto Pasal 56 KUHP, ujarnya.

Kemudian WJP alias W dalam proses kekerasan berlebihan melontarkan sebuah kata yang diyakini mengandung sindiran terhadap mahasiswa STIP, khususnya CBDM.

Periklanan

“Jangan malu-malu, CBDM. Katakan padaku!” seru WJP.

Kata-kata yang digunakan pelaku diyakini memiliki kode tersendiri sehingga membuat penyidik ​​meminta pendapat ahli bahasa. Menurut para ahli bahasa, memang ada bahasa di kalangan taruna yang kemudian mempunyai arti tersendiri.

Tak hanya sekali, saat P dipukul tersangka TRS, WJP juga mengatakan, “Bagus kalau tidak tidur, berarti kakinya masih kuat, kira-kira begitu,” ujarnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan ahli bahasa, penyidik ​​menetapkan WJP sebagai tersangka berdasarkan konstruksi Pasal 55 juncto Pasal 56 KUHP.

Tersangka tambahan ketiga adalah KAK alias K. Tugas KAK adalah mengidentifikasi korban sebelum TRS melakukan kekerasan berlebihan.

K berkata “Hanya adikku, mayoret terpercaya”. Menurut para ahli bahasa, kata “mayor” juga hanya hidup di kalangan mahasiswa STIP saja, yang mempunyai arti tersendiri dikalangan mereka.

Jadi K ditetapkan sebagai tersangka juga berdasarkan konstruksi Pasal 55 juncto Pasal 56 KUHP, kata Gidion.

Menurut Gidion, penyidik ​​masih terus mengembangkan kasus pelecehan tersebut dan melengkapi berkasnya sebelum dilimpahkan ke jaksa penuntut umum (JPU).

Dalam proses pengembangannya, penyidik ​​telah memeriksa total 43 orang saksi, termasuk 36 orang mahasiswa TIP dari Tingkat I, Tingkat II dan Tingkat IV, Pengasuh STIP, Dokter Klinik STIP, Dokter RS ​​Tarumajaya, Ahli Pidana dan Ahli Bahasa.

Barang bukti tersebut merupakan hasil visum et repertum yang menyatakan korban mengalami luka lecet pada bibir dan perut akibat kekerasan benda tumpul. Hasil pemeriksaan alkohol dan obat-obatan negatif, namun terdapat tanda-tanda perpeloncoan parah dan pendarahan.

Polisi juga mengamankan pakaian korban, pakaian yang dikenakan tersangka saat kejadian, rekaman CCTV, dan hasil analisis digital terhadap rekaman tersebut.

Pilihan Editor: Beberapa kasus kematian di kampus akibat penganiayaan, yang terbaru terjadi pada taruna STIP Jakarta



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *